"Pi...!"
"Mi, Mimi ngantuk ya! Maafin Pipi ya! Mimi naik sini aja, bobok di sebelah Pipi."
Mimi langsung menuruti perintah Pipi. Bukan apa-apa. Hanya saja lelah dan mengantuk yang dipikirkannya saat itu. Mungkin juga ada hal lain. Rindu kepada Pipi yang tidak bangun semalaman. Mimi sangat khawatir. Terbaring lemah dan tidak bergerak. Membuat Mimi takut. Pipi tak pernah sakit sampai seperti ini sebelumnya. Tapi kata dokter Pipi tidak apa-apa. Hanya kecapaian.
Setelah berada di sebelah Pipi, Mimi malah tidak bisa tidur. Aroma tubuh Pipi yang wangi itu juga sangat dirindukannya. Semalam saja tak merasakannya serasa hidup tanpa oksigen. Mati.
"Mi,... Mimi koq malah bengong siy? Bobok dong! Pipi nyanyiin ya!"
"Mimi bobok Oh Mimi bobok,
Kalo tidak bobok Pipi yang bobok,
Mimi bobok Oh Mimi bobok,
Kalo tidak bobok Pipi yang bobok,
Boboklah bobok Mimiku sayang,
Kalo tidak bobok Pipi yang bobok!"
Begitu terus berulang-ulang. Telapak tangan dari lengan yang digunakan Mimi sebagai bantal, mengelus-elus rambut Mimi. Perlahan, rasa kantuk kembali menyerang. Mimi tertidur, terlelap, dalam dekapan Pipi. Tidak lama kemudian, datanglah Pak RT dan istrinya menjenguk Pipi. Mereka terhenyak ketika melihat Mimi yang tidur di samping Pipi.
"Sstt!" Pipi meletakkan telunjuk kirinya di depan hidung.
"Assalamualaikum!" Kata Pak RT dan Istrinya.
"Waalaikumsalam!" Jawab Pipi.
"Gimana Pak Erdi, sudah sehat?"
"Udah mendingan, Pak!"
"Ini, Bu Annisa kok bisa tidur di situ?"
"Iya, Pak! Mimi kecapaian. Tadi tertidur di situ. Terus saya suruh naik. Kasihan dia, Pak!"
Sekitar setengah jam kemudian, Pak RT dan istrinya pamit. Pipi tidak lupa mengucapkan terimakasih atas kedatangan mereka.
***
Tiga hari di Rumah Sakit, Pipi sudah diizinkan pulang. Dia dan Mimi berjalan menenteng tas menuju parkiran. Di dalam mobil, Pipi tidak langsung menancap gas. Dia menggenggam erat tangan Mimi dan menciumnya. Tak lupa meraba perut istrinya. Calon bayinya sudah tiga bulan tinggal di rahim Mimi. Pernikahan mereka memang tidak disetujui oleh para orang tua. Tapi mereka telah membuktikan bahwa tanpa restu pun mereka dapat hidup sejahtera dan bahagia.
"Pi, jangan sakit lagi ya!"
"Janji! Pipi sayang Mimi!"
"Mimi juga sayang Pipi."
Mereka melesat menelusuri jalan. Udara luar yang sangat bebas. Itulah yang sangat dirindukan Pipi. Kebahagiaan rumah tangganya yang sudah dibina selama satu setengah tahun, adalah hal terbesar yang pernah di dapat oleh mereka. Mereka berharap hal itu akan berlangsung selamanya. Dan orang tua mereka akan berumah pikiran.
~~~

1 komentar:
Cerpen ini sebenarnya tidak ada niat untuk dipostkan. Ceritanya tidak jelas. Tiba-tiba dapat ide saja lalu langsung ditulis. Dan dipostkan. Sudahlah, tidak penting. Bila ada yang ingin membaca ya silakan. Jangan lupa tinggalkan komentar. Bila ingin langsung pergi, pergi saja! Dan terimakasih sudah mengunjungi blog saya.
Posting Komentar